Ketika sejumlah negara baru menerima 4G/LTE, beberapa vendor gawai dikabarkan akan menanamkan teknologi paling anyar. Salah satunya adalah ZTE, Frozzaholics. Lixin Cheng selaku CEO Mobile Device Business ZTE menungkapkan rencana perusahaannya yang akan menggunakan jaringan 5G buat gawai mereka, terutama untuk ponsel pintar pada awal 2019. Kabar tersebut Cheng kemukakan dalam acara CES 2018 di Las Vegas, Amerika Serikat.

 

Perangkat canggih dengan jaringan 5G dari ZTE

 

Jaringan 5G untuk ZTE tak hanya diberikan buat ponsel pintar, Frozzaholics. Cheng bersama timnya akan meluncurkan tablet beserta hub internet nirkabel yang dapat dipakai di rumah hingga kantor. Dia mengatakan tekadnya sudah mutlak walau rencana tersebut tergantung pada ketersediaan 5G beserta suplai chipset yang mendukungnya. Untuk mewujudkan rencana, ZTE mengeluarkan dana sebesar USD300 juta atau setara dengan Rp37,5 T demi berinvestasi dalam jaringan 5G.

 

Jika ZTE memang berambisi mengeluarkan ponsel pintar 5G, vendor asal Guangdong tersebut perlu mengadakan rapat intensif dengan Verizon atau AT&T. Pasalnya kedua operator tersebut akan memberi layanan teknologi 5G pada akhir 2018. ZTE sudah menjalin kerja sama dengan AT&T di Amerika Serikat, Frozzaholics, hanya saja kemitraan jangka panjang membutuhkan kinerja penjualan menjanjikan pula.

 

Posisi penjualan ZTE di antara para kompetitornya

 

Di Amerika Serikat, ZTE adalah pabrikan terbesar nomor tiga yang memiliki pangsa pasar mencapai 13%. Dalam pasar global, vendor tersebut bukan pemain signifikan, karena pangsa pasarnya hanya mencapai 2,05%. Posisi ZTE bahkan berada jauh di belakang Samsung (dengan 19,18%), Apple (dengan 9,22%), Huawei (dengan 7,73%), Oppo (dengan 6,03%), Xiaomi (dengan 5,58%), Vivo (dengan 4,77%), Lenovo (dengan 3,04%), serta LG (dengan 3,03%).

 

Berbeda dengan ZTE yang sudah sesumbar, perusahaan raksasa sepeti Apple dan Samsung hingga kini belum memberikan pemberitaan seputar peluncuran perangkat 5G. Walau demikian, Samsung telah mengikat kerja sama dengan Verizon Wireless untuk mengetes jaringan 5G di California. Lantas Apple memegang izin pemerintah untuk menguji jaringan tersebut di Cupertino.

 

Sayangnya, performa penjualan bukan satu-satunya hal yang mengancam peluncuran perangkat 5G dari ZTE. Ternyata belum lama ini mereka didenda sekitar USD1,2 M atau setara Rp15 T oleh pemerintah AS karena dianggap melanggar aturan penjualan gawai secara ilegal ke Korea Utara dan Iran, Frozzaholics. Namun, sepertinya hambatan-hambatan tersebut tak akan menghalangi ZTE. Mari kita amati bagaimana ZTE menangani perangkat 5G mereka, ya!