Ketika bisnis musik mulai loyo karena penjualan album dalam format Compact Disc (CD) terus menurun, dan maraknya pembajakan, akhirnya beberapa musisi sekarang kembali menggunakan vinyl atau yang kita kenal sebagai piringan hitam sebagai salah satu cara untuk tetap mempertahankan eksistensinya dan menyelamatkan karya-karyanya dari aksi pembajak.

Selain itu, keinginan untuk kembali mempergunakan piringan hitam sebagai pengemas album-album baru ini, didasarkan juga dengan pola gaya hidup yang sekarang ini sudah mulai bergeser. Orang-orang lebih mengenal piringan hitam sebagai sesuatu hal yang mewah dan bernilai seni yang tinggi.

Piringan Hitam - White Shoes and the Couples Company

Lewat suaranya yang khas, piringan hitam mampu membawa si penikmat musik kedalam jaman kejayaan musik tanpa pembajakan. Sedangkan bagi para penikmat musik, piringan hitam sianggap sebagai sesuatu hal yang bernilai seni tinggi, terdengar sangat klasik dan berkelas.

Bens Leo, sebagai salah seorang pengamat musik Indonesia, mengungkapkan jika sekarang ini memang ada banyak pergeseran yang terjadi dalam tren produksi atau tren menikmati musik. Di luar negeri, sekarang mereka sudah mulai melakukan gerakan kembali beralih ke piringan hitam.

Secara mengejutkan, ternyata gerakan kembali ke piringan hitam ini tidak dilakukan oleh musisi luar negeri saja, beberapa musisi Indonesia juga melakukan hal tersebut. Sebut saja Seringai, Superman Is Dead, dan tentu saja White Shoes and the Couples Company sebagai salah satu band yang mengusung aliran 70-an.

Kalau kita membandingkan rekaman dalam format pita kaset atau CD audio dengan rekaman piringan hitam, harus diakui jika rekaman dengan piringan hitam terbilang lebih eksklusif. Dengan memiliki piringan hitam, maka kamu akan dituntut untuk memiliki alat pemutar khusus yang disebut turntable yang harganya sangat mahal.

Tidak hanya itu, harga rekaman piringan hitam juga sangat mahal, bahkan bisa mencapai puluhan kali dari kaset biasa dengan proses penggandaan yang harus dilakukan di luar negeri. Dengan sederat proses dan hal yang serba mahal, maka sudah dipastikan harga jual untuk album dalam piringan hitam juga akan malah.

Dengan kata lain, menikmati musik lewat piringan hitam, sama dengan menikmati sensasi musik dalam suasana yang serba mahal, dari sebuah karya seni dengan modal yang sangat mahal. So, siapkah kita untuk kembali ke jaman piringan hitam?

Sumber gambar: speedyinstanradio.net